Beranda Kesehatan Laporan penanganan Gizi buruk dan kurang, oleh Dinas Kesehatan Prov Kepri

Laporan penanganan Gizi buruk dan kurang, oleh Dinas Kesehatan Prov Kepri

SOROT KEPRI

 

poto Balita penderita gizi buruk di Karimun saat ditemui Dwi Ria Latifa anggota DPR

KEPULAUAN RIAU

Investigasipos.com, Menyikapi pem beritaan mengenai gizi buruk dan gizi kurang, yang terjadi di beberapa daerah di indonesia, Kepala Dinas kesehatan Prov Kepri “Tje tjep yutdiana” mengintruksikan pada setiap jajarannya, agar membuat dan melapor kan data hasil penanganan gizi buruk di setiap Kab/Kota yang ada di Prov Kepri.

Berdasarkan data laporan rutin penanganan gizi kurang dan gizi buruk yang dikumpulkan dari 7 Kab/Kota di Prov Kepri diperoleh gambaran dan imformasi yang dilakukan perawatan antara lain :tabel gibur

Prosedur perawatan (tatalaksana) kasus gizi buruk sesuai pedoman proses asuhan gizi di Puskesmas dan Rumah Sakit antara lain :

  1. Pengukuran Antopometri
  2. Penegakan Diagnosis
  3. Pemberian makan/nutrisi berupa : formula F75,F100
  4. Pemberian multimikronutrient Taburia dan pemberian kapsul Vitamin A.
  5. Rehabilitasi fase awal dan lanjutan
  6. Pemberian makanan secara bertahap dengan mengurangi frekuensi makanan cair dan menambah frekuensi makanan padat.

diagram gibur

Berdasarkan data diatas, penyebab kasus gizi buruk di Provinsi Kepulauan Riau tahun 2017 adalah Pola Asuh yang salah (63,4%). Pola Asuh dalam hal ini adalah perlakuan atau cara pemberian asupan makanan yang salah yang terus menerus dilakukan oleh keluarganya. Kegagalan keluarga dalam memberikan nutrisi yang baik bagi si anak seperti : tidak memberikan ASI Ekslusif, pemberian makanan (MP ASI) terlalu dini, kebiasaan memberikan jajanan yang tidak sehat kepada anaknya, tidak ber-PHBS, sanitasi yang jelek, dsb.

Hasil dari beberapa penelitian menunjukkan lebih dari 45% Ibu membiarkan anak makan makanan yang disukai tanpa memperhatikan kandungan zat gizinya.Status ekonomi menjadi penyebab kedua terbesar (33,6%). Meskipun sedikit, penyebab klinis (3,1%) harus menjadi perhatian terkait kualitas layanan dan intervensi medis selain itu penyebab klinis inilah yang langsung berdampak pada kematian. Terdapat 6 kematian balita gizi buruk akibat klinis (penyakit penyerta); penyakit jantung : 2 orang, meningitis : 1 orang, hydrocephalus : 1 orang, marasmus : 1 orang dan HIV/AIDS : 1 orang.

bar gibur

Dari tabel diatas menunjukkan bahwa pekerjaan yang terbanyak adalah Swasta/Wiraswasta (109 orang) dikarenakan populasi terbanyak adalah di Kota Batam sehingga pekerjaan lainnya (Nelayan dan Buruh) tampak lebih sedikit. Gambaran yang perlu dicermati adalah pekerjaan : nelayan, buruh dan MRT jika angka kumulatif digabungkan ditiap kab/kota memiliki proporsi yang cukup besar (mencapai 54%) melebihi proporsi pekerjaan swasta/wiraswasta (42%). Meskipun sangat sedikit namun dari data yang dikumpulkan terdapat orangtua berprofesi PNS yang memiliki anak dengan kasus Gizi Buruk (4 balita).

Perkembangan terkini kasus gizi buruk di Provinsi Kepulauan Riau di awal tahun 2018 ini sudah dilaporkan 2 kasus gizi buruk yang terjadi di Kabupaten Karimun dengan kondisi balita sedang dilakukan perawatan di Rumah Sakit RSUD Muhammad Sani Tanjung Balai Karimun.

Upaya yang telah dilakukan :

– Pelacakan kasus gizi buruk

– Perawatan kasus gizi buruk di Puskesmas dan Rujukan ke Rumah Sakit

– Distribusi dan Pemberian PMT bagi Ibu Hamil dan Balita

– Pemantauan kasus gizi buruk pasca perawatan (Follow up)

– Konseling pada keluarga melalui kunjungan rumah

– Pemantauan status gizi rutin diadakan setiap tahun untuk menjaring balita gizi buruk yang tidak datang ke Posyandu atau Puskesmas

– Integrasi program KIA – Gizi melalui Kelas Ibu Hamil dan Ibu Balita

poto Kepala Dinas Kesehatan Prov Kepri

Mengingat permasalahan gizi buruk ini bukan semata-mata akibat dari faktor kesehatan saja, Kepala Dinas Kesehatan Prov Kepri “Tje tjep Yutdiyana” mengajak masyarakat untuk bekerjasama yang intens dengan melibatkan multidisiplin keilmuan, multi sektor dan profesi sehingga kasus gizi buruk ini dapat ditangani dengan baik, tepat guna (efisien) dan tepat sasaran (efektif). (TJ/NS_Kesmas)

Editor    :  M. Sukur

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here