Beranda Nasional KPAI Minta, Orang Tua di Indonesia. Jaga Ketat Anak-anaknya saat Menonton Film...

KPAI Minta, Orang Tua di Indonesia. Jaga Ketat Anak-anaknya saat Menonton Film Maupun TV

KPAI Minta, Orang Tua di Indonesia. Jaga Ketat Anak-anaknya saat Menonton Film Maupun TV

Minggu, 08 Maret 2020, 11.00 wib/ Kontributor- Editor: Muhamad Sukur

Investigasipos.com. Kepri – Komisi Perlindungan Anak Indonesia, melalui Komisioner KPAI, Retno Listyarti meminta para orang tua di Indonesia mengawasi secara ketat anak-anaknya saat menonton film maupun televisi.

Imbauan itu disampaikanya belajar dari kasus pembunuhan anak lima tahun oleh remaja putri di Sawah Besar, Jakarta beberapa hari lalu karena terinspirasi dari menonton sebuah film.

Kejadian ini menjadi bukti betapa kuatnya pengaruh audio visual terhadap tumbuh kembang kejiwaan anak. Tayangan film maupun televisi berdampak besar bagi anak-anak yang belum memiliki referensi kuat,”

Baca juga : Tak Berdasar Ukuran Jelas, Komisi X DPR, Pertanyakan Alasan Penetapan Ormas oleh Kemendikbud

“Anak-anak adalah peniru ulung dari apa yang dia lihat. Meski hal itu tak menjadi faktor tunggal, karena bisa juga dipengaruhi hal lain seperti faktor lingkungan dan sebagainya,” ungkap Retno menjelaskan.

Retno menduga pelaku (remaja putri) ini berasal dari kondisi keluarga yang tidak bahagia karena menunjukkan perilaku delinkuen atau hal-hal yang menyalahi norma dan hukum. Kondisi yg tak bahagia, membuat anak-anak mencari kompensasi di luar keluarga untuk memecahkan kesulitan batinnya.

Lebih lanjut, kasus ini menurut Retno menjadi bukti bahayanya konsumsi tayangan televisi atau film oleh anak tanpa pendampingan orang tua. Karena anak akan menelan mentah-mentah apa yang diterimanya dengan pertimbangan dan pemahaman yg belum matang.

“Mereka cenderung akan meniru apa yang menurutnya keren. Di sini pentingnya pendampingan dan pengawasan terhadap anak-anak saat menonton tayangan audio visual,” terang Retno.

Baca juga : Ahok Kandidat Kepala Badan Otorita Ibu Kota Baru, Istana: Tidak Heran

Ditegaskan Retno, kesalahan yang dilakukan anak tidak berdiri sendiri, ianya bisa dipengaruhi dari ketidak pekaan orang dewasa di sekitarnya.

Menurutnya tanda-tanda masalah dalam jiwa anak dapat dilihat dari perilaku yang suka menyakiti hewan dan dari gambar serta tulisan yang dibuat anak.

Pihak sekolah juga seharusnya peka melihat masalah yang mungkin sedang dihadapi anak. Dan membantu anak menemukan potensi dan kesukaan untuk mengeluarkannya dari perasaan tertekan.

“Pihak sekolah, seperti wali kelas dan guru bimbingan konseling semestinya memiliki kepekaan untuk menangkap perilaku delikuen si anak sehingga dapat menolongnya mendapatkan bantuan psikologis,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here