Beranda Hukrim Jubir KPK Sebut, Kock Meng. Didakwa Atas Dua Pelangaran Dalam UU Tipikor 

Jubir KPK Sebut, Kock Meng. Didakwa Atas Dua Pelangaran Dalam UU Tipikor 

 

Febri, Jubir KPK Sebut, Kock Meng Didakwa Atas Dua Pelangaran dalam UU Tipikor

Investigasipos.com. KEPRI. Terkait Kasus suap Gubernur Kepri non- aktif, H. Nurdin Basirun. Kock Meng, Pengusaha asal Batam. Akhirnya menjalani sidang perdananya di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Jumat (06/12/2019).

Melalui rilisnya Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Febri Diansyah mengatakan, Kock Meng  didakwa atas dua pelanggaran sesuai undang-undang indak pidana korupsi (Tipikor).

Dikatakan, Kock Meng melanggar pasal 5 ayat 1 UU pemberantasan Tipikor dan pasal 13 UU serupa. Dari salah satu pasalnya, Kock Meng terancam mendapat hukuman pidana penjara paling singkat 1 tahun dan paling lama 5 tahun serta denda paling sedikit Rp 50 juta dan paling banyak Rp 250 juta.

Kock Meng juga terancam hukuman pidana penjara paling lama 3 tahun dn denda paling banyak Rp 150 juta pada pasal berikutnya. Dan pada surat itu pula disebutkan jika Kock  Meng telah bekerjasama dengan terdakwa bernama Abu Bakar.

Selain Kock Meng dan Abu Bakar terdapat pula nama Johanes Kodrat sebagai perantara dan memiliki peran cukup penting dalam perkara ini, sosok Johanes Kodrat hingga saat ini belum pernah terungkap di hadapan publik.

Walau memiliki peran penting dalam perantara komunikasi Abu Bakar ke Kock Meng, Johanes sejauh ini dikatakan Jubir KPK, Febri Diansyah  hanya berstatus sebagai saksi saja dalam kasus suap ini.

Dalam rilis selanjutnya dituliskan, Kock Meng disebut bersama dengan Abu Bakar (terdakwa kasus suap) dan Johanes Kodrat berencana akan membuat restoran dan penginapan terapung di wilayah Tanjung Piayu, Kota Batam.

Saat itu, Kock Meng kebingungan dan langsung memberitahu Johanes Kodrat perihal keinginannya itu. Sehingga, Johanes Kodrat langsung mengenalkan Abu Bakar kepadanya.

Saat ditanya mengenai persyaratan yang diperlukan Kock Meng, dalam mengurus izin itu. Abu Bakar menjawab bertemu terlebih dahulu dengan pihak Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepri.

Selanjutnya, Abu Bakar berkomunikasi dan bertemu langsung dengan Budi Hartono selaku Kepala Bidang Perikanan Tangkap Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Kepri.

Dalam pertemuan itu, Abu Bakar meminta Budi Hartono untuk membantu pengurusan izin milik Kock Meng. Dan Budi Hartono menjelaskan, ada kesepakatan jika pengurusan izin akan dilancarkan

apabila Abu Bakar dan Kock Meng bersedia memberi biaya pengurusan administrasi sebanyak Rp 50 juta.

Abu Bakar meminta Johanes Kodrat segera menghubungi Kock Meng.  Dan Kock Meng pun setuju, lalu diberikanlah sejumlah uang dengan nominal yang diminta Budi Hartono.

Uang Rp 50 juta itu diberikan Abu Bakar kepada Budi Hartono sebanyak Rp 45 juta dan Rp 5 jutanya lagi di pergunakannya untuk kebutuhan operasional.

Dari alasan Budi Hartono diketahui jika draf izin pemanfaatan ruang laut telah diajukan, namun nota dinasnya belum ditandatangani oleh Edy Sofyan selaku Kepala DKP Provinsi Kepri, sehingga belum dapat diserahkan kepada Gubernur Kepri, Nurdin Basirun.

Abu Bakar tak hanya mengurus izin reklamasi milik Kock Meng, namun dia juga mengajukan izin reklamasi miliknya di Pelabuhan Sijantung, Kota Batam.

Uang ini diketahui akan digunakan oleh Nurdin Basirun untuk melakukan kunjungan ke pulau-pulau Prov Kepri sebagai wilayah kedinasannya sebagai seorang kepala daerah dan juga digunakan untuk keperluan pembiayaan makan rombongannya.

Tak hanya itu, Kock Meng juga memberikan uang dalam bentuk Dollar Singapura sebanyak SGD 5000 kepada Nurdin Basirun. Uang itu diberikannya untuk mengurus perizinan berikutnya, yaitu izin prinsip pemanfaatan ruang laut di Tanjung Piayu, Kota Batam dengan luas sebesar 10,2 hektar.

Selanjutnya Abu Bakar pun segera menghubungi Johanes Kodrat untuk mempersiapkan uang sebanyak Rp 50 juta sesuai permintaan Budi Hartono. Namun, Johanes Kodrat meminta kepada Kock Meng dengan jumlah yang lebih yaitu sebesar Rp 300 juta.

Mendengar permintaan itu, Kock Meng pun langsung mengatakan jika dirinya ingin mempercepat urusan izin miliknya dan bersedia memberikan sejumlah uang yang diminta Johanes Kodrat.

Namun, Kock Meng tak memberinya dalam nominal rupiah. Dia memberikan dalam bentuk Dollar Singapura sejumlah SGD 28 ribu. Tapi, Johanes Kodrat tak memberi seluruhnya kepada Abu Bakar.

Dia hanya memberi sejumlah Rp 50 juta sesuai yang diminta oleh Budi Hartono. Sisanya, dia berikan kepada Abu Bakar melalui istrinya Rp 50 juta dan sisanya disimpan oleh Johanes Kodrat langsung.

Kemudian diketahui lagi dari surat dakwaan Kock Meng, dirinya juga memberikan uang dengan jumlah besar kepada Nurdin Basirun melalui perantara yang sama yakni Abu Bakar, untuk memberikannya kepada Budi Hartono sebagai perantara langsung Nurdin Basirun.

Jumlah uang selanjutnya sejumlah SGD 6 ribu. Atas perbuatannya ini, Kock Meng didakwa dengan Pasal 5 ayat 1 UU Pemberantasa n Tindak Pidana Korupsi junto pasal 55 ayat 1 ke 1 junto pasal 64 ayat 1.

 

Sumber Tribunbàtàm.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here