Polisi Tetapkan Guru SMP sebagai Tersangka Kasus Susur Sungai di Sleman

Polisi Tetapkan Guru SMP sebagai Tersangka Kasus Susur Sungai di Sleman
Sabtu, 22 Februari 2020/ Editor: Muhawad Sukur

Satu orang yang ditetapkan sebagai tersangka ini merupakan pembina Pramukt sekaligus guru SMP Negeri 1 Turi.

“Sampai dengan saat ini, kita sudah melakukan pemeriksaan kepada paling tidak ada 13 orang,” ujar Kepala Bidang Humas Polda DIY Kombes Yuliyanto saat dikonfirmasi, Sabtu (22/2/2020).

Yuliyanto menyampaikan, ada tiga kelompok dari 13 orang yang menjalani pemeriksaan. Kelompok pertama adalah pembina Pramuka yang berjumlah tujuh orang.

“Tujuh orang ini, enam orang ikut ke lokasi, satu orang tinggal di sekolah karena menunggu barang-barang anak-anak itu,” kata Yuliyanto.

Kemudian, enam orang pembina ikut mengantar peserta ke sungai. Lalu, empat orang ikut turun ke dalam sungai.

“Satu, begitu sampai di lokasi, pergi meninggalkan lokasi karena ada keperluan. Satu lagi menunggu di titik finish-nya. Jarak kira-kira dari start ke finish direncanakan panjang 1 kilometer,” kata Yuliyanto.

Kelompok kedua yang dilakukan pemeriksaan adalah Kwarcab Pramuka Kabupaten Sleman.

Ada tiga orang yang dilakukan pemeriksaan.

“Kenapa diperiksa, karena kita ingin tahu bagaimana aturan-aturan yang ada di kepramukaan berkaitan dengan manajemen risiko kegiatan Pramuka,” ucap dia.

Mengenai tanda-tanda banjir yang bisa datang tiba-tiba tersebut, hal utama yang diperlukan adalah mengetahui kondisi dan cuaca yang akan atau sedang terjadi di hulu sungai.

Pasalnya, jika kita berada di hilir sungai saja, dan tidak mengetahui apakah di hulu sedang hujan, maka akan sangat sulit untuk mengetahui perubahan pada laju atau arus air dan riak sungai tersebut.

Kendati demikian, Anda bisa waspada jika cuaca sudah menunjukkan tanda-tanda akan hujan atau mendung, suara gemuruh.

“Selalu dan seringlah melihat ke hulu sungai untuk memastikan aliran yang datang, biasanya belum terlalu besar debitnya,” kata dia.

Reni Kranungtyas SP, MSi, selaku Kepala Stasiun Klimatologi Sleman Yogyakarta, Sabtu (22/2/2020), berkata bahwa prediksi cuaca untuk hulu dan hilir Sungai Sempor sebetulnya tidak berbeda.

Hal yang membedakan adalah topografi dari lokasi hulu dan kolasi di hilir saat kejadian di sungai tersebut.

Hulu Sungai Sempor itu berada di dataran yang lebih tinggi di barat daya Merapi, sedangkan kejadian laka sungai tersebut berada di hilir, yaitu Donorejo yang merupakan daerah lebih rendah.

Daerah dataran tinggi lebih banyak memicu terjadinya hujan orografi,” ujarnya.

Untuk diketahui, hujan orografi ini terjadi karena adanya massa udara yang naik dan kemudian terjadi penurunan suhu sehingga massa udara yang membawa titik-titik air tersebut berkondensasi dan terjadilah hujan.

Hujan orografi ini terjadi pada daerah dataran yang lebih tinggi atau pada daerah lereng pegunungan.

Sehingga, pada saat kejadian laka tersebut, hujan dominan terjadi di wilayah Turi bagian atas atau hulu sungai daripada Turi bagian bawah atau hilir.

Oleh sebab itu, meskipun cuaca yang diprediksikan sama, tetapi kecenderungan terjadi hujan adalah pada wilayah hulu sungai. Lantas, empasan debit air secara pasti akan mengalir ke hilir sungai tersebut

Recommended For You

Redaksi

About the Author: Redaksi

Media Investigasi Groups. Powered by Perwinsus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *