Beranda Berita Jakarta Bahlil Beberkan Alasan Mengapa Smelter di Indonesia Banyak di Miliki Orang Asing

Bahlil Beberkan Alasan Mengapa Smelter di Indonesia Banyak di Miliki Orang Asing

Bahlil Beberkan Alasan Mengapa Smelter di Indonesia Banyak di Miliki Orang Asing

Minggu, 19 Februari 2023
Kontributor Jakarta

JAKARTA l Investigasipos com – Menteri Investasi, Bahlil Lahadalia menyebutkan alasan kesulitan pengusaha di Indonesia untuk membangun Semelter lantaran Perbankan dalam negeri masih enggan memberikan kredit untuk pembangunan Smelter tersebut.

Bahlil menegaskan Perbankan nasional baru memberikan kredit jika equity yang didapat sekitar 30-40 persen. Sementara itu, bank asing memberikan equity kepada pengusahanya hanya 10 persen. Sehingga akibatnya membuat pengusaha lokal mengunakan dananya untuk investasi lain.

“Jadi kalau ditanya kenapa smelter banyak punya orang asing, jawabnya adalah karena perbankan nasional tidak membiayai smelter dengan baik, makanya diambil asing,” ungkap Bahlil dalam konferensi persnya di Gedung Kementerian Investasi, Jakarta, Kamis (16/02/23) kemarin.

Karena Pembangunan Smelter yang tidak bisa menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Mengingat pembangunan Smelter membutuhkan anggaran yang menyentuh angka triliunan. Makanya, agar Indonesia bisa membangun Smelter butuh kerja sama dari pihak swasta yang memiliki dana dan teknologi.

Investor asing datang ke Indonesia membawa uang dan teknologi hilirisasi, sementara kita orang Indonesia memiliki lzin Usaha Pertambangannya. Lalu tercipta lah kolaborasi diantara keduanya

“Jadi keliru kalau IUP punya orang Indonesia tapi smelter punya asing, maunya yang bener adalah jika IUP dikasihkan ke orang asing dan smelter juga punya orang asing,” ucap Menteri Investasi, Bahlil Lahadalia, Kamis (16/02) kemarin

Karena itu, Bahlil ingin mendorong Perbankan dalam negeri agar mau menyalurkan kreditnya untuk pembangunan Smelter, Selain itu Ia juga mendorong adanya relaksasi aturan.

“Kami dorong segera melakukan relaksasi di perbankan sehingga perbankan mau memberikan kredit dengan equity yang terjangkau. Jangan equity-nya 40 persen. Kalau bank asing itu cuma 10 persen,” jelas Bahlil.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here