WHO Khawatir, Indonesia Belum Laporkan Satu pun Kasus Virus Korona
Senin, 10 Februari 2020 – 15:00 Wib/ Kontributor: Arianto/ Editor: M. Sukur
Investigasipos.com. JAKARTA – Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) meminta Indonesia untuk melakukan hal lebih dalam menyiapkan kemungkinan wabah virus Corona.
Pasalnya Indonesia belum melaporkan satu pun kasus virus mematikan ini di saat negara tetangga, seperti Singapura, Malaysia, dan Australia sudah.
Badan PBB itu berharap Indonesia meningkatkan pengawasan, pendeteksian kasus, serta persiapan di fasilitas-fasilitas kesehatan rujukan jika terjadi wabah.
Perwakilan WHO Indonesia, Navaratnasamy Paranietharan, mengatakan, negara berpenduduk 270 juta jiwa ini telah melakukan langkah- lamgkah konkret terkait penanganan virus Corona yang mematikan tersebut.
Petugas indonesia telah melakukan pemeriksaan di perbatasan-perbatasan dan pintu masuk, baik pelabuhan maupun bandara, dengan menyiapkan rumah sakit untuk menangani kasus-kasus potensial.
“Indonesia sedang melakukan segala hal untuk mempersiapkan dan mencegah virus korona baru, namun Paranietharan menilai masih banyak pekerjaan yang harus dilakukan di bidang pengawasan, deteksi dn persiapan fasilitas kesehatan;” katanya di Jakarta, pekan lalu.
BACA JUGA : 78 WNI Berada di Kapal Pesiar Jepang yang Terimbas Virus Korona, Bagaimana Nasibnya?
Ketersediaan alat tes khusus untuk mengonfirmasi nCoV (virus korona) pekan ini merupakan peningkatan signifikan dan menuju ke arah yang benar,” lanjutnya, saat mengunjungi beberapa fasilitas medis rujukan virus korona di Jakarta, bersama para pejabat Kementerian Kesehatan (Kemenkes).
Paranietharan sempat mengungkapkan kekhawatirannya bahwa Indonesia belum melaporkan satu pun kasus virus korona. “Kami (WHO) prihatin. (Tapi) Kami telah diyakinkan oleh otoritas terkait bahwa pengujian laboratorium bekerja dengan baik,” tuturnya.
Pernyataan ini disampaikanya setelah sebelumnya seorang warga Australia yang pernah berkunjung ke Bali, Matthew Hale, didiagnosis menderita pneumonia, gejala virus korona, setelah pulang. Dia mengkritik pengujian laboratorium oleh otoritas kesehatan setempat yang kurang maksimal.
Hale mengatakan kepada Sydney Morning Herald (SMH) dan The Age bahwa dia mendatangi RS Sanglah di Denpasar pada 26 Januari setelah mengalami sakit parah usai berpergian ke Singapura. (Dikutip dari INews)
“Rumah sakit pertama mengatakan mereka tidak dapat membantu dan merujuk saya ke Sanglah dan akhirnya menemukan tempat yang tepat. Dokter bertanya apakah saya pernah berpergian ke China dan menjawab tidak. Jadi mereka bilang tidak bisa mengujinya,” ujar Hale, seraya melanjutkan dokter tak menawarkan tes darah.
Setalah ke Sanglah, dia mengunjungi rumah sakit lain dan menjalani pemeriksaan darah, memeriksa tekanan, suhu, dan rontgen. Petugas medis di sana memberi tahu bahwa dia mengalami pneumonia dan diberi antibiotik.
BACA JUGA : Terkait Virus Corona, China: AS Menyebarkan Kepanikan dan Ketakutan
SMH dan The Age pekan lalu melaporkan bahwa Indonesia belum menerima alat tes khusus untuk mendeteksi jenis virus korona baru secara cepat. Otoritas hanya mengandalkan tes pan-virus korona yang secara positif dapat mengidentifikasi semua virus dalam keluarga korona, termasuk flu biasa, SARS dan MERS.
Pengurutan gen kemudian diperlukan untuk secara positif mengonfirmasi kasus virus korona baru dan seluruh proses memakan waktu hingga 5 hari.
Kecurigaan bahwa Indonesia belum melaporkan kasus virus korona juga didasarkan bahwa lebih dari 2 juta turis China mengunjungi Indonesia pada 2019, sebagian besar ke Bali. Negara-negara tetangga termasuk Australia, Thailand, Malaysia, Singapura, Vietnam, Kamboja, dan Filipina yang dikunjungi oleh turis China sudah melaporkan kasus virus korona.
Kepala Biro Humas Kemenkes Widyawati mengatakan pada Rabu pekan lalu bahwa 42 spesimen dikirim ke laboratorium untuk diuji dan 40 spesimen negatif dan dua masih masih dalam proses pemeriksaan.
Kepala Dinas Kesehatan Bali Ketut Suarjaya mengatakan, para pejabat memperhitungkan riwayat perjalanan seseorang dan apakah sebelumnya mereka melakukan kontak dengan penderita virus korona atau tidak. Pihaknya mengirim tujuh sampel darah dari kasus potensial ke Jakarta untuk diuji lebih lanjut.
“Jadi, tanpa ada catatan perjalanan ke China, namun ada riwayat kontak (dengan penderita virus korona), orang tersebut akan di bawah pengawasan,” pungkasnya.














































