Mengisi Kemerdekaan, SMP Muhammadiyah 5 Pucang Adakan Teater Esa

INVESTIGASIPOS.COM | SURABAYA – Teater Esa SMP Muhammadiyah 5 Pucang Surabaya menggelar teatrikal di hadapan 472 Siswa saat memperingati kemerdekaan indonesia yang ke 73 di halaman sekolah.

Teatrikal tersebut dilaksanakan setelah kegiatan upacara 17 Agustus selesai. Bunyi tepuk tangan para penonton mengiringi saat pertunjukan tersebut di mulai dan di akhiri.

Adegan awal pada teatrikal tersebut terdengar suara sirine dan baku tembak. Setelah sirine berhenti para pemain mulai keluar, yang pertama ada penjajah Belanda dan orang Indonesia yang baku tembak dan saling serang.  

Pada ada akhirnya di menangkan orang Indonesia. Paskah kemenangan itu terdengar suara lagu tanah airku yang di nyanyikan oleh sinta selaku pemeran orang Indonesia untuk mengiringi orasinya fadhil maulana terang kemenanganya. 

Kemudian adegan di lanjut dengan Pembacaan puisi kemerdekaan oleh adelia dan ramizard. Mereka membacakan puisi dengan sangat lantang di depan teman-temanya.  

Menurut Ramizard pembacaan puisi tersebut untuk membakar jiwa para temanya. “Saya membacakan puisi di depan teman-teman saya dengan sangat lantang untuk membakar semangat jiwa teman-teman untuk mengisi kemerdekaan. Settelah saya baca puisi saya teriakan merdeka 3 kali dan di akhiri takbir.” Ujarnya. Jumat, (17/08).

Suara ramizard saat teriak merdeka di ikuti oleh seluruh siswa jadi terasa bergetar spemma dengan gemuruh suara kemerdekaan. 

Pada pertunjukan teatrikal tersebut,  Pemeranya dari berbagai macam tokoh dan karakter. Ada yang menjadi tentara pejuang Republik Indonesia dan ada juga yang Memerankan sebagai penjajah Indonesia. 

Namun dari segi busana di kemas lebih menyesuaikan dengan jaman sekarang dan kondisi sekolah yang berbasic islam. Jadi para penjajah dan terjajah pemeran perempuanya memakai kerudung. Jadi pertunjukan kelihatan lebih islami. 

Menurut Miftakul Khoir pembina Teater Esa mengatakan, pembuatan pertunjukan teatrikal dalam rangka memperingati HUT RI yang ke 73 itu untuk menanamkan rasa Nasionalisme cinta pada tanah airnya. 

“Pasca pementasan tersebut banyak anak-anak yang mengeluh malu pentas di depan teman-temanya. Tapi menurut saya malu di awal itu jadi langkah pertama agar anak terasah berani tampil di depan teman-temannya.” Tukasnya.

Red : Arianto

Recommended For You

Redaksi

About the Author: Redaksi

Media Investigasi Groups. Powered by Perwinsus.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *