Beranda Berita Korupsi Orang Baik Tak Cukup Jadi Modal Pemimpin, Kadang Bisa Lupa Diri

Orang Baik Tak Cukup Jadi Modal Pemimpin, Kadang Bisa Lupa Diri

Orang Baik Tak Cukup Jadi Modal Pemimpin, Kadang Bisa Lupa Diri

Minggu, 28 Februari 2021

Investigasipos.com | KEPRI. Kabar  tertangkapnya Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel), Nurdin Abdullah oleh KPK dalam Operasi Tangkap Tangan (OTT) mencengangkan banyak orang.

Salahsatunya dirasakan Ketua Bidang Pemenangan Pemilu Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) Bambang Wuryanto. yang merupakan partai pendukung di Pilkada Sulawesi selatan 2018.

Menurut Bambang, Nurdin dikenal memiliki pribadi yang santun dan religius. Sholatnya 5 waktu tak pernah tinggal sering berikan ceramah dan dia beranggapan tak mungkin Nurdin melakukan hal ini.

“felling saya ini orang baik, karena ini gubernur saya tidak curiga. Tapi namanya orang baik saja tak cukup kadang bisa juga lupa diri,” kata Bambang dilansir dr Kompas.com usai acara HUT PDI-P ke-48 di Semarang, Minggu (28/02)

Walau pun begitu disampaikan
Bambang, dalam dunia politik memiliki sikap baik tidaklah cukup ada kemungkinan Nurdin lupa diri karena kekuasaan atau ada pihak yang ingin menjatuhkan.

Bagi Pemimpin juga harus disadari, diduga kadang-kadang ada meski pun tidak semua, alat penegakkan hukum dipakai untuk menjatuhkan orang lain apalagi saingan dalam jabatan keoemimpinan,” jelasnya.

Proses hukum harus dipatuhi dan diikuti dengan baik, harus tetap tegak lurus pada hukum, kalau dihukum, jalani baik-baik tidak boleh dilanggar,” pungkasnya.

Sebelumnya diinformasi, Gubernur Sulsel Nurdin Abdullah ditangkap oleh KPK bersama Sekretaris Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (PUTR) Sulsel Edy Rahmat dan Agung Sucipto (kontraktor proyek).

Diketahui ketiganya terjerat kasus suap pembangunan kawasan pedestrian di Bira, Bulukumba.
Terkait pengadaan barang dan jasa serta pembangunan infrastruktur di lingkungan Pemprov Sulsel tahun anggaran 2020-2021.

Nurdin diketahui menerima suap melalui Edy Rahmat sebagai perantara dari Agus Sucipto sebagai pemberi suap senilai Rp 2 miliar. Selain itu, Nurdin diduga menerima suap dari kontraktor lain, sehingga total uang yang diterimanya mencapai 5,4 miliar. (Ari)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here