JAKARTA, “Investigasipos

Fakta jawaban atas pertanyaan di atas, hanya kembali mengingat pernyataan Lukas Enembe Gubenur Papua, Menurut Embe, maraknya penembakan di Papua bagian dari ulah aparat yang datang ke Papua dengan menjual amunisi ke masyarakat lokal. Enembe mncurigai persediaan peluru kelompok bersenjata yang tidak pernah habis saat baku tembak dengan aparat.
“Sulit membawa senjata atau amunisi ilegal dari luar Papua, kecuali membeli dari aparat yang bertugas,” katanya.
Media massa pun pernah mencatat pernyataan anggota Komisi I DPR Yorrys Raweyai. Ia menilai ada kejanggalan yang terjadi saat para aparat yang datang dari luar Papua. Mereka datang membawa begitu banyak amunisi, namun setelah pulang amunisi dinyatakan habis. Karena itu, politikus Partai Golkar ini meyakini kelompok bersenjata di Papua mendapat amunisi justru dari aparat keamanan sendiri.
“Dari mana amunisi bisa masuk ke sana? Ada indikasi pasukan di-BKO-kan datang bawa peluru, pulang tak bawah apa-apa. Jadi ada istilah, datang bawa M16 pulang bawa Rp16 M,” kata Yorrys seperti diberitakan Okezone saat itu.
Menurut dia, amunisi dijual oleh para aparat keamanan dengan harga Rp1.500 per butir. Dia juga yakin hal ini terjadi karena selongsong yang ditemukan dalam penyisiran tempat kontak senjata itu berasal dari PT Pindad kerap digunakan aparat keamanan.
“Amunisi terbatas, kenapa kontak senjata dari tahun ke tahun amunisi tidak pernah habis temuan selongsong buatan Pindad, dari mana itu barang?” tandasnya.
Pernyataan-pernyataan yang mengejutkan itu semua terungkap dalam tahun 2014 yang lalu dari pejabat negara sendiri. Penjabat negara yang mengendalikan roda pemerintah nasional di daerah. Paling tidak mereka mengetahui apa yang mereka katakan. Mereka pasti bertangungjawab atas pernyataan mereka.
Apakah konflik Papua menjadi lahan subur bagi oknum tertentu? Hingga saat ini pertanyaan tersebut masih misteri.
Terkait konfilik ini, Sriyanto ‘Satu Hati’ menegaskan, faktor utama konfilk di Papua hanyalah karena kesenjangan dan kesejahteraan belaka, ini masalah kelasik, Mengapa tidak, ketika kesejahteraan masyarakat tidak terpenuhi dan kesenjangan terus dirasakan mereka setiap harinya, sementara mereka mengetahui daerahnya kayaraya akan sumber alamnya yang dirampas dan dikorupsi oleh oknum-oknum yang serakah dan tidak bertanggungjawab, sebagai bangsa Indonesia, manusiawi jika ada tuntutan terus-menerus untuk diperhatikan.
Tentunya, konflik Papua harus segera diselesaikan dengan tangan dingin dan rendah hati, lakukan pendekatan kekeluargaan, berantas semua jenis korupsi di negara ini dengan jujur dan transparan tanpa pandang bulu, Puaskan hak rakyat dengan Undang-Undang NKRI.
Semua pihak sudah waktunya.untuk :
STOP Mementingkan kepentingan diri sendiri dan Kelompok !
BERANTAS KORUPSI di BUMI CENDRAWASIH !
TANGKAP, HUKUM PELAKU PENJUAL SENJATA di BUMI CENDRAWASIH !
Demi NKRI agar kejadian Timor-Timor tidak terulang lagi. “Salam Satu Hati NKRI”
Oleh Satu Hati NKRI – Sukur















































