Beranda Nasional Novus Ordo Seclorum: Covid-19 Dalam Terminologi Perang Mutakhir

Novus Ordo Seclorum: Covid-19 Dalam Terminologi Perang Mutakhir

Ilustrasi Darurat Perang Melawan Senjata Biologis Virus Corona (Pt . mdcom.id)

Minggu, 25 Juli 2021 |

Investigasipos.com | NIKOLAI Platonovich, Sekretaris Dewan Keamanan Rusia menyampaikan pernyataan yang menggemparkan publik dalam Konferensi Moskow IX.

“Saat ini telah ada tanda-tanda pathogen atau mikro organisme parasit berbahaya dicoba digunakan untuk mengacaukan keamanan dunia,” ucap Sekretaris Dewan Keamanan Rusia ini.

Nikolai menjelaskan, tujuan utama pihak yang mencoba menggunakan pathogen berbahaya itu adalah untuk mencari keuntungan politik dan militer.

Kondisi ini jauh lebih berbahaya dari perkiraan, sebab percobaan ini merupakan proses kebangkitan dari senjata biologis yang membahayakan umat manusia di muka bumi,” terangnya.

Pernyataan Nikolai tentu saja bukan suatu penyataan yang tidak berlandaskan fakta dan data. Berbagai temuan yang didapat kalangan intelijen Rusia memperkuat indikator tentang potensi serangan mematikan dari senjata biologis yang di kembangkan ilmuwan dilaboratorium

Hal tersebut diperkuat oleh ditemukannya sebuah dokumen rahasia yang diduga berisi rencana senjata biologis China oleh penyelidik Amerika Serikat dan dapat diakses oleh Departemen Luar Negeri Amerika.

Dalam dokumen rahasia itu disebutkan, ilmuwan Cina telah mempersiapkan rencana yang disusun secara matang untuk membuka gerbang Perang Dunia 3 dengan senjata biologis dan genetik, termasuk virus corona selama 6 tahun terakhir.

Dokumen rahasia yang dibuat oleh para ilmuwan Tentara Pembebasan Rakyat dan pejabat Kesehatan Cina memuat penelitian tentang manipulasi penyakit untuk membuat senjata dengan cara yang belum pernah terlihat sebelumnya.

Juga bocornya email seorang ahli virus Tiongkok, dr. Li Meng-Yan yang dikirimkan kepada ahli penyakit menular Amerika, Anthony Faucy turut menggemparkan dunia.

Dalam email tersebut disebutkan Covid-19 adalah senjata biologis tak terbatas yang menyelinap dari fasilitas laboratorium di Wuhan.

Covid-19 yang dinyatakan WHO sebagai pandemi, ada juga sebagian pakar virus dan ahli di bidang kesehatan menyebut sebagai plandemi atau pandemi yang sengaja diciptakan karena direkayasa, memicu ketegangan antar negara-negara adidaya.

Tentu hal ini berimbas pada runtuhnya pertumbuhan ekonomi dan tidak tertutup jika situasi politik global tidak stabil kemungkinan besar memicu perang.

Perang Dunia 3 berbeda dengan perang dunia sebelumnya. Perang Dunia 3 adalah perang biologis. Tingkat kehancuran yang diciptakan senjata biologis lebih mengerikan dari bom atom.

Kematian massal akan terjadi di setiap negara, dan histeria umat manusia pada akhirnya akan menciptakan instabilitas politik dan kekacauan ekonomi. Senjata biologis bisa menjelma seperti serdadu virus dalam konflik geopolitik.

Dalam terminologi perang mutakhir, Covid-19 adalah pasukan khusus dengan senjata kontemporer yang memiliki kecerdasan buatan.

Pada tahun 2002, ilmuwan Amerika Serikat secara gamblang menunjuk beberapa situs yang kuat diduga terlibat dalam penelitian racun dan pathogen.

Satu laboratorium di Yan’an disinyalir telah mengerjakan 4 jenis senjata biologis termasuk granat bakteri dan bom bakteri jenis asap. Kemudian di Changcun, Kunming, Shenyang dan Wuhan dinyatakan terlibat dalam penelitian dan budidaya berbagai agen perang biologis.

Profesor Dr. Atta -ur- Rahman, ilmuwan berkebangsaan Pakistan, Ketua Gugus Tugas Nasional Pakistan untuk Sains dan Teknologi memiliki pendapat lain.

Atta -ur- Rahman menyampaikan bahwa Covid-19 tidak datang secara alami melalui mutasi, dan menuding Amerika Serikat memproduksinya di laboratorium sebagai senjata biologis.

Ada beberapa bukti bahwa Amerika sedang mengerjakan senjata biologisnya di laboratorium militer yang kemudian ditutup setelah terjadi kebocoran.

Atta -ur- Rahman menegaskan virus corona dikembangkan di laboratorium barat dan Amerika untuk program senjata biologis dan bukan dimulai di Wuhan, Cina.

Kementerian Luar Negeri Cina pun menuding militer Amerika Serikat yang telah membawa Covid-19 ke Wuhan, Cina ketika 300 tentara AS ikut serta dalam pertandingan perang internasional yang diadakan di sana.

Aksi saling tuding siapakah dalang di balik penyebaran Covid-19 memunculkan spekulasi dan tafsir politik, namun yang pasti 4 kekuatan negara adidaya, yakni Amerika Serikat, Cina, Rusia dan Eropa kini sedang memamerkan kekuatannya masing-masing dan memperkuat sekutu dalam eskalasi geopolitik.

Global Future Institute (GFI) dalam buku yang ditulis peneliti M. Arief Pranoto dan Hendrajit berdasarkan riset, ”Perang Asimetris & Skema Penjajahan Gaya Baru,” membahas tentang Indonesia yang menjadi target Perang Asimetris tak terkecuali serangan Asimetris di bidang kesehatan.

Terbongkarnya manipulasi WHO terkait virus H5N1 yang kemudian dilawan oleh Menteri Kesehatan Dr. Siti Fadilah Supari pada masa pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono memperkuat bukti adannya penetrasi politik yang dilakukan intelijen Amerika Serikat di bidang kesehatan.

Dalam buku tersebut dipaparkan, pada tahun 2007 di Gedung Laboratorium Mikrobiologi, berlokasi di jalan Percetakan Negara 29 Jakarta Pusat milik Departemen Kesehatan terjadi ledakan dan ditemukan Nitrogen cair dan CO2. Di komplek gedung tersebut berkantor The Naval Medical Research Unit 2 (NAMRU-2) yang merupakan Unit-2 Penelitian Medis Angkatan Laut Amerika Serikat, sebuah badan yang mempelajari berbagai jenis penyakit di negara tropis.

Berdasarkan hasil investigasi GFI, sejak akhir 2006 hingga awal 2007 jatuh korban sekitar 25 orang meninggal dunia akibat virus yang tak dikenal dan merupakan hasil eksperimen biologis tertutup yang dikerjakan NAMRU-2. Anehnya insiden yang terjadi sepi dari pemberitaan media massa.

Ternyata fakta lain yang cukup mencengang terungkap, NAMRU-2 melakukan penelitian aplikasi militer antara lain pembuatan senjata bio-terorisme, sejenis Weafon of Mass Destrction (WMD) kategori khusus senjata biologis.

Dengan kata lain NAMRU-2 adalah markas operasi intelijen Angkatan Laut Amerika Serikat yang berdiri di atas wilayah kedaulatan Republik Indonesia.

Dari sini kita bisa menggali ditemukannya indikator bahwa senjata bio-terorisme dalam bentuk virus yang memiliki aritificial intelegence melahirkan berbagai penyakit aneh dan mematikan yang direkayasa dan dikerahkan menjadi serdadu virus dalam perang mutakhir.

Di balik peristiwa-peristiwa besar yang terjadi di atas papan catur politik dan ekonomi internasional dalam perjalanan sejarah umat manusia tidak bisa dilepaskan dari teori konspirasi.

Persekongkolan jahat elit kapitalis global yang menjalankan misi rahasia mewujudkan tirani pemerintahan dunia agar negara-negara yang berserakkan di berbagai penjuru dunia berada di bawah satu komando. Dengan demikian New World Order dapat terlaksana tanpa kendala.

Elit kapitalis global yang menguasai sistem ekonomi dunia dengan otoritas yang nyaris absolut, terutama di wilayah politik serta sektor perbankan, media massa dan farmasi juga di sektor vital lainnya telah mampu memegang tali kendali seluruh negara-negara di berbagai penjuru dunia dari barat sampai ke timur.

Salah satu tali kendali yang ampuh untuk menyandera sebuah negara adalah pinjangan hutang dari World Bank dan IMF yang sesungguhnya merupakan bentuk neo kolonialisasi ekonomi di abad 21 dengan maksud dan tujuan melumpuhkan kedaulatan sebuah negara.

Sang Juru Selamat palsu berjubah bantuan ekonomi telah mengatur dan menggerakkan dunia dengan perencanaan yang matang. Para pemimpin negara-negara maju dan negara-negara berkembang di Asia, Afrika dan Timur Tengah dipaksa tunduk dan patuh untuk menjadi budak kebijakan asing yang agresif, suatu kebijakan yang dirumuskan dari agenda besar oligarki global.

Fakta dan bukti tunduk serta patuhnya para pemimpin di berbagai negara adalah dengan menerima mata uang konvensional yang menjadi alat transaksi dalam melakukan aktivitas ekonomi.

Betapa elit kapitalis global mampu merancang konsep dan melahirkan gagasan yang tak terduga. Sejatinya, mata uang merupakan surat utang yang dilegitimasi keputusan politik ekonomi segelintir orang. Henry Ford pendiri Ford Motor Company pernah berkata,

Lebih baik rakyat Amerika tidak perlu tahu asal usul tentang sejarah mata uang, karena jika mereka tahu, saya yakin besok pagi revolusi akan meletus dan dibalik dolar Amerika Serikat tertera sebuah tulisan Novus Ordo Seclorum dengan simbol piramida dan mata satu.

Novus Ordo Seclorum bukan sebatas teks narasi yang tertera dibalik lambang resmi Amerika Serikat yang dirancang pada tahun 1782 oleh seorang seniman yang identitasnya “misterius” dan kemudian pada tahun 1935 dicetak di balik dolar Amerika Serikat hingga memunculkan berbagai tafsir politik.

Novus Ordo Seclorum bukanlah tagline dengan simbol semata, tetapi merupakan Codex Magica, bentuk komunikasi non verbal sebuah organisasi rahasia yang mengendalikan dunia dengan misi terselubung untuk mendistribusikan pesan rahasia Protokol Zion.

Apa makna tersembunyi di balik teks narasi Novus Ordo Seclorum tersebut? Adakah kolerasinya dengan pandemi Covid-19 yang telah menciptakan kegelapan global dan kematian massal dalam sejarah peradaban umat manusia di abad 21?

Gerakan elit kapitalis global yang bergerak membangun Tatanan Dunia Baru dengan melancarkan perang biologis sebagai wujud terminologi perang mutakhir memiliki tujuan akhir: Menggelar karpet merah untuk menyambut Al-Masih Ad-Dajjal melalui keputusan politik global yang memanipulasi kebenaran dengan tipu daya muslihat yang maha dahsyat.

Sebuah fitnah besar yang didengungkan media massa dengan propaganda dan psy war kepada umat manusia.

Novus Ordo Seclorum adalah rumusan politik elit kapitalis global yang berselimutkan metaforis dengan menjalankan misi terselubung demi terwujudnya Tatanan Dunia Baru di bawah kendali sistem Al-Masih Ad-Dajjal.

Kini dalam situasi teror global Covid-19 yang mencekam, semakin menampakkan gambaran yang jelas bahwa umat manusia hidup dalam cengkeraman skenario besar yang dirancang para penyembah Iblis.

Sumber: rmol.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here